Uji One Sample t-Test adalah teknik statistik yang digunakan untuk membandingkan rata-rata sampel dengan nilai rata-rata yang diharapkan atau diketahui sebelumnya. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah rata-rata sampel berasal dari populasi dengan rata-rata tertentu atau apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya. Uji One sample t test juga bisa disebut dengan uji beda 1 sampel independen atau uji beda 1 Proporsi.
Uji One sample t test memiliki kelebihan untuk menguji hipotesis tentang rata-rata populasi berdasarkan sampel yang representatif, serta penggunaanya yang fleksibel dan dapat digunakan untuk sampel dengan ukuran yang berbeda. Selain memiliki kelebiham, uji one sample t test juga memiliki kekurangan, diantaranya asumsi independensi antara pengamatan, yaitu bahwa setiap pengamatan dalam sampel harus bersifat independen satu sama lain. Selain itu asumsi normalitas data wajib terpenuhi dengan kata lain data yang digunakan harus berdistribusi dengan normal, karena uji one sample t test termasuk ke dalam statistik parametrik. Apabila data yang digunakan tidak berdistribusi dengan normal, maka bisa menggunakan alternatif uji ke statistik non parametrik yaitu uji binomial.
Sebelum malakukan uji one sample t test, peneliti diharapkan untuk menetukan nilai rata-rata yang dijadikan acuan untuk menjawab hipotesis penelitian mereka. Selanjutnya membandingkan nilai P-Value dengan alpha yang digunakan, biasanya menggunakan alpha 5%.
Contoh kasus yang digunakan dalam tulisan ini adalah dimana seorang peneliti mengajukan sebuah hipotesis bahwasanya rata-rata gaji karyawan di Perusahaan A sebesar 2.000.000 dengan alpha 5%. Jumlah karyawan yang dijadikan sampel sebanyak 15 karyawan. Untuk menjawab hipotesis yang diajukan, peneliti menggunakan uji one sample t test dengan harapan data yang digunakan juga berdistribusi normal, agar penggunaan uji one sample t test bisa dilakukan.
BERIKUT CARA UJI ONE SAMPLE T TEST DI SPSS
Siapkan tabulasi data di Excel, kemudian input data atau masukan data ke SPSS pada Page Data View.
Jangan lupa isikan juga pada Page Variable View.
Selanjutnya melakukan Uji Normalitas, dengan cara pilih Analyze – Descriptive Statistics – Explore.
Muncul kotak dialog Uji Normalitas, seperti ini :
Masukan Variabel Gaji ke kolom Dependent List.
Selanjutnya pilih Plots, Ceklis Normality Plots with test lalu pilih Continue dan OK.
Keluar Output SPSS untuk Uji Normalitas :
Kriteria Pengujian Uji Normalitas :
Nilai Shapiro Wilk > 0.05 berkesimpulan Data berdistribusi Normal atau asumsi Uji Normalitas terpenuhi.
Nilai Shapiro Wilk < 0.05 berkesimpulan Data berdistribusi tidak Normal atau asumsi Uji Normalitas tidak terpenuhi.
Interpretasi Output Uji Normalitas :
Diketahui nilai Sig. Shapiro Wilk sebesar 0.876 (>0.05) maka bisa disimpulkan bahwa data yang digunakan berdistribusi normal dengan kata lain asumsi uji normalitas sudah terpenuhi. Penggunaan uji normalitas shapiro wilk dikarenakan jumlah data yang dipakai kurang dari 50 (<50). Setelah mengeathui bahwasanya asumsi normalitas data telah terpenuhi, maka bisa lanjut ke Uji One Sample T Test.
Selanjutnya melakukan Uji One Sample T Test, dengan cara pilih Analyze – Compare Means – One Sample T Test.
Muncul kotak dialog Uji One Sample T Test, seperti ini :
Masukan Variabel Gaji ke kolom Test Variable, lalu isikan Test Value dengan angka 2.000.000 dikarenakan angka tersebut dijadikan acuan untuk menjawab hipotesis peneliti dalam Contoh Kasus Uji One Sample T test di tulisan ini, dan yang terakhir pilih OK.
Keluar Output SPSS untuk Uji One Sample T Test :
Kriteria Pengujian Uji One Sample T Test :
Nilai (2-Tailed) > 0.05 berkesimpulan Tidak ada perbedaan secara signifikan.
Nilai (2-Tailed) < 0.05 berkesimpulan Ada perbedaan secara signifikan.
Interpretasi Output Uji One Sample T test :
Diketahui nilai Sig. (2-Tailed) sebesar 0.065 (>0.05) maka bisa disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan rata-rata gaji karyawan di Perusahaan A, dimana rata-rata gaji karyawan sebesar 2.140.000.